Akbarpost/Wakatobi di Sulawesi Tenggara adalah kepingan surga yang tercecer di Samudra Hindia dan Laut Banda, tempat di mana terumbu karang hidup lebih sejahtera daripada keuangan akhir bulan kebanyakan orang. Memiliki kepulauan yang terdiri dari empat pulau utama (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko yang kalau disingkat jadilah nama "Wakatobi", bukan nama grup vokal Dangdut), destinasi ini menawarkan keindahan alam bawah laut kelas dunia yang siap membuat mata Anda terbelalak hingga lupa caranya berkedip.

Menjadi bagian dari segitiga terumbu karang dunia, pesona Wakatobi begitu menyihir sampai-sampai ikan-ikan di sana tampak berenang dengan begitu santai, seolah tak peduli dengan kerumitan cicilan manusia di darat. Pasir putihnya yang halus bagaikan tepung kualitas premium dan bentangan air lautnya yang jernih bak akuarium berukuran raksasa menjadikan Wakatobi sebagai tempat perlarian sempurna bagi siapa saja yang ingin kabur sejenak dari kejenuhan rutinitas kota, atau minimal dari gempuran chat grup kantor yang tak pernah tidur.

Potensi wisata Wakatobi jelas berpusat pada kekayaan baharinya yang tiada tanding dan bisa membuat para pencinta jalan-jalan mendadak lupa jalan pulang. Dengan puluhan spot diving dan snorkeling kelas wahid seperti Onemobaa Rawa di Tomia atau Roma Peak, Anda akan disuguhi atraksi ratusan jenis terumbu karang berwarna-warni serta ribuan spesies ikan yang berenang seliweran tanpa perlu bayar tiket bioskop. Bagi Anda yang tidak bisa berenang, tenang saja: pemandangan dari atas perahu pun sudah cukup membuat takjub, meski sangat disayangkan kalau Anda jauh-jauh ke sini hanya untuk menonton ikan dari permukaan seperti sedang memantau gorengan di wajan.

Selain menyelam, Anda juga bisa berkunjung ke Desa Sombano untuk melihat danau air asin yang misterius, menyapa masyarakat suku Bajo di Desa Mola yang mahir mengarungi lautan sejak balita, atau berburu sunset megah di Puncak Kahianga yang romantisnya sanggup membuat jomblo mendadak berpuisi. Jangan lupa juga untuk mencicipi kuliner khasnya seperti kasuami—makanan dari singkong yang bentuknya menyerupai tumpeng mini dan siap mengenyangkan perut Anda setelah seharian lelah berpura-pura menjadi putri duyung.

Untuk mencapai surga tersembunyi ini, rute perjalanannya memang membutuhkan sedikit perjuangan dan kesabaran ekstra—sebuah ujian kesetiaan sebelum Anda benar-benar bisa menikmati keindahannya. Perjalanan biasanya dimulai dengan terbang menuju Kota Kendari (Bandara Haluoleo) atau Makassar (Bandara Sultan Hasanuddin) terlebih dahulu. Dari Kendari, Anda punya dua pilihan rute: jalur udara yang praktis atau jalur laut yang penuh jiwa petualangan.

Jika memilih jalur udara, Anda bisa melanjutkan penerbangan perintis langsung menuju Bandara Matahora di Pulau Wangi-Wangi (pulau gerbang utama Wakatobi), namun pastikan Anda mengecek jadwalnya baik-baik agar tidak berakhir terdampar manis di bandara transit. Sementara jika Anda tipe pejuang hemat yang tahan banting, Anda bisa naik kapal cepat dari Pelabuhan Kendari menuju Bau-Bau di Pulau Buton, lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal laut menuju Wangi-Wangi selama beberapa jam.

Selama di kapal laut, Anda bisa menikmati semilir angin malam dan guncangan ombak yang siap mengocok perut sekaligus memberikan terapi pijat gratis secara alami. Begitu kaki Anda melangkah di dermaga Wakatobi, seluruh rasa lelah dan pegal-pegal akibat perjalanan panjang akan seketika luntur, tergantikan oleh rasa takjub yang luar biasa.

Ayo luangkan waktu Anda, luapkan rasa ingin tahu dan jejakkan kaki Anda ke tempat ini. Pesonanya sedang menunggu Anda untuk disaksikan secara langsung, bukan hanya lewat layar kaca. Jangan biarkan impian Anda hanya tersimpan di daftar keinginan.

Kemasi ransel Anda, rencanakan perjalanan Anda, dan buat kenangan tak terlupakan di tempat ini!
Credit picture by wakatobi.com

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.