Itusaya.com/Di tengah deburan ombak, tersembunyi sebuah mahakarya alam yang seolah dilukis langsung oleh jemari sang pencipta. Namanya Banda Neira, sebuah pulau molek yang terletak di Kepulauan Banda, Maluku.
Pulau ini bukan sekadar gugusan daratan di atas samudra, melainkan sejuta pesona alam sekaligus sejarah yang membisu namun terus berbisik hangat kepada siapa pun yang menginjakkan kaki di sana.
Saat fajar menyingsing, di pulau ini kamu bisa melihat tirai kabut tipis yang seakan perlahan terangkat, menyingkap hamparan air laut bergradasi biru pirus yang jernih bak kaca Kristal. Dari kejauhan, Gunung Api Banda terlihat berdiri gagah bagaikan benteng raksasa yang setia menjaga kedamaian pulau ini.
Hijaunya pepohonan yang menyelimuti punggung gunung beradu mesra dengan kilau keemasan mentari pagi, menciptakan pemandangan spektakuler yang menawan jiwa.
Tak hanya pemandangan sekitar yang menawan namun di bawah permukaan lautnya pun tak kalah kerennya. Pulau ini menyimpan mahkota keindahan yang tiada tara, ibarat seperti panggung tarian megah bagi terumbu karang berwarna-warni lengkap dengan ribuan spesies ikan pelagis yang berenang bebas tanpa beban.
Menyelam di perairan pulau ini ibarat melangkah masuk ke dalam istana bawah laut yang dipenuhi keajaiban tak terbatas; setiap sudutnya memancarkan sihir alam yang melumpuhkan rasa lelah.
Tak hanya alamnya yang menari-nari dalam keindahan, hembusan napas angin malam di pulau ini pun membawa aroma pala yang legendaris. Jejak-jejak sejarah yang tertanam di setiap dinding benteng tua dan rumah-rumah kolonial seolah mengajak setiap pengunjung melakukan perjalanan melintasi lorong waktu.
Pulau Banda Neira bagaikan simfoni kesunyian yang menenangkan, tempat di mana waktu seolah enggan berjalan cepat, dan tempat di mana jiwa-jiwa yang lelah menemukan kembali kedamaiannya. Bagi mereka yang mencari kepingan surga di bumi, Banda Neira tidak hanya memberikan pemandangan, tetapi juga meninggalkan jejak kerinduan yang mendalam di dalam kalbu.
Perjalanan menuju pulau Banda Neira, diawali dengan menuju Kota Ambon sebagai pintu gerbang utamanya. Langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengambil penerbangan menuju Bandara Internasional Pattimura di Ambon dari berbagai kota besar di Indonesia.
Setibanya di Ambon, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Yos Sudarso jika ingin menggunakan jalur laut, atau tetap di Bandara Pattimura jika memilih penerbangan udara antarpulau.
Dari Kota Ambon, opsi tercepat untuk mencapai Pulau Banda Neira adalah dengan penerbangan perintis melintasi langit Maluku yang memakan waktu singkat, sekitar 45 menit, hingga mendarat mulus di Bandara Banda Naira. Namun, jika kamu ingin menikmati syahdunya lautan Banda, jalur laut adalah pilihan yang paling diminati.
Selanjutnya kamu dapat menaiki kapal penumpang PELNI, seperti KM Nggapulu atau KM Pangrango, serta opsi kapal feri cepat dengan durasi pelayaran berkisar antara 8 hingga 12 jam perjalanan. Seiring bertiupnya angin laut dan perlahan merapatnya kapal di Dermaga Banda Naira, lelahnya perjalanan pun seketika terbayar lunas saat bentang alam berlatar Gunung Api Banda menyambut kamu dengan penuh kehangatan.
Nah! Bagi kamu yang merindukan pelarian dari riuk pikuk kehidupan kota, Pulau Banda Neira tidak sekadar menawarkan liburan,ia menawarkan penawar rindu akan keaslian alam yang murni dan menakjubkan.
Ayo luangkan waktumu, luapkan rasa ingin tahumu dan jejakkan kakimu di pulau Banda Neira. Keindahan pulau ini menunggumu untuk disaksikan secara langsung, bukan hanya lewat layar kaca.” Jangan biarkan impian ini hanya tersimpan di daftar keinginanmu.
Kemasi ranselmu, rencanakan perjalananmu, dan buat kenangan tak terlupakan di pulau ini!
Itusaya.com/Di kala mentari pagi menyibak tirai ke-emasan di ufuk timur, Laut Sulawesi mendadak bermutasi menjadi sekeping permata raksasa. Angin sepoi menyapu lembut, membawa aroma garam dan kebebasan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Seperti halnya Pulau Derawan, ibarat sepotong nirwana di ujung Kalimantan Timur yang sepertinya dijatuhkan Tuhan saat sedang tersenyum.
Derawan bukan sekadar gugusan pulau, ia adalah mahakarya visual tempat alam memamerkan keanggunannya tanpa batas. Air lautnya yang sejernih kristal menyajikan hamparan gradasi warna dari hijau toska hingga biru pekat, seolah mengundang siapa saja untuk menyelami pelukan hangatnya.
Di bawah permukaan yang tenang, panggung sandiwara bawah laut dimulai, penyu-penyu hijau raksasa meliuk anggun bagaikan penari istana yang tak kenal lelah, sementara terumbu karang warna-warni berdiri kokoh menjadi istana bagi jutaan biota laut.
Bagi para pengunjung, menyelam di perairan Derawan adalah ritual menyatukan diri dengan alam. Tak jarang, penyu-penyu raksasa berenang begitu dekat, menatap ramah seolah menyambut kepulangan kerabat jauh.
Sementara di pulau tetangganya, Kakaban, ubur-ubur tak menyengat menari-nari dalam keheningan danau purba seakan menciptakan sensasi melayang di ruang hampa yang penuh kedamaian.
Ketika petang mulai berlabuh, Pulau Derawan seakan mengenakan gaun malamnya yang paling memikat. Langit berganti rupa menjadi kanvas lukisan abstrak dengan sapuan warna jingga, ungu, dan merah membara.
Pasir putihnya yang selembut sutra seakan menyimpan hangat sisa siang, tempat yang sempurna untuk mengeja arti ketenangan sambil menyaksikan sang surya perlahan tenggelam di balik horizon.
Pulau Derawan bukan hanya destinasi wisata, ia adalah penawar bagi jiwa-jiwa yang lelah, ibarat sebuah puisi alam yang ditulis dengan riak gelombang dan dihiasi desir angin pantai. Bagi siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di atas pasirnya, Derawan akan selalu menjadi rindu yang tak pernah usai.
Adapun rute paling populer dan terjangkau untuk menuju Pulau Derawan adalah via Berau. Terbang menuju Bandara Kalimarau (BEJ) di Tanjung Redeb, Berau (biasanya transit di Balikpapan). Kemudian lanjut, naik travel/mobil rental dari Bandara Kalimarau menuju Dermaga Tanjung Batu (durasi sekitar 2–2,5 jam). selanjutnya melakukan perjalanan via laut dari Tanjung Batu, naik speedboat menuju Pulau Derawan (durasi sekitar 30–45 menit).
Nah! Bagi kamu yang merindukan pelarian dari riuk pikuk kehidupan kota, Pulau Derawan tidak sekadar menawarkan liburan,ia menawarkan penawar rindu akan keaslian alam yang murni dan menakjubkan.
Ayo luangkan waktumu, luapkan rasa ingin tahumu dan jejakkan kakimu di pesisir Kalimantan Timur. Keindahan pulau ini menunggumu untuk disaksikan secara langsung, bukan hanya lewat layar kaca.” Jangan biarkan impian ini hanya tersimpan di daftar keinginanmu. Kemasi ranselmu, rencanakan perjalananmu, dan buat kenangan tak terlupakan di pulau ini!
Itusaya.com/Di balik heningnya ombak Selat Sunda, terhampar sebuah kepingan surga yang jatuh di pesisir Lampung. Pulau Pahawang, seakan tak pernah habis menumpahkan keindahannya, terus memikat sanubari siapa saja yang datang bertandang.
Bukan sekadar gugusan daratan di tengah lautan, pulau ini adalah mahakarya alam yang dilukis dengan jemari angin dan sapuan warna kebiruan yang memukau.
Saat mata angin mengarahkan langkah menuju Lampung Selatan, Pahawang menyambut pengunjung dengan deburan ombak yang berbisik lembut, seolah melantunkan simfoni alam yang menenangkan jiwa.
Pasir putihnya yang halus bagai tepung sutra membentang luas, memantulkan kilau mentari pagi yang hangat dan memanjakan setiap langkah kaki.
Keajaiban sejati Pahawang tersembunyi tepat di bawah permukaan airnya. Lautan di sekitar pulau ini menjelma menjadi cermin kristal yang amat jernih, menyingkap tirai dunia bawah air yang tiada tanding.
Di kedalaman yang teduh, terumbu karang berkembang mekar bagai taman bunga abadi. Ikan-ikan badut yang mungil menari riang di antara tentakel anemon, menyapa para penyelam dengan kelincahan yang menggemaskan. Mengapung di atas air Pahawang memberikan sensasi bagai terbang melintasi gurun warna-warni yang bernyawa.
Gugusan ini menyimpan dua pesona utama: Pahawang Besar dan Pahawang Kecil. Pahawang Besar menyajikan kehangatan kearifan lokal dengan ramahnya senyum penduduk setempat dan deretan homestay terapung yang berdiri anggun di atas air.
Sedangkan Pahawang Kecil menyembunyikan keajaiban bertajuk Pasir Timbul, sebuah jembatan pasir putih alami yang muncul membelah lautan saat air surut, seolah bagai karpet megah yang disediakan khusus bagi para pengembara.
Ketika sang surya mulai lelah dan bersiap kembali ke peraduannya, langit Pahawang berubah menjadi kanvas raksasa. Sapuan warna jingga, merah muda, dan keunguan meleleh perlahan di ufuk barat, memantul sempurna di permukaan laut yang tenang. Pada momen inilah, waktu seakan berhenti berputar, menyisakan kekaguman mendalam atas keagungan Sang Pencipta.
Nah! Bagi kamu yang merindukan pelarian dari riuk pikuk kehidupan kota, Pulau Pahawang tidak sekadar menawarkan liburan,ia menawarkan penawar rindu akan keaslian alam yang murni dan menakjubkan.
Ayo luangkan waktumu, luapkan rasa ingin tahumu dan jejakkan kakimu di pesisir Lampung. Keindahan Pulau Pahawang menunggumu untuk disaksikan secara langsung, bukan hanya lewat layar kaca.” Jangan biarkan impian ini hanya tersimpan di daftar keinginanmu.
Kemasi ranselmu, rencanakan perjalananmu, dan buat kenangan tak terlupakan di Pahawang!
Itusaya.com/Pernahkah kamu membayangkan berdiri di atas puncak bukit, menatap ribuan gugusan pulau karang berwarna hijau yang mengapung anggun di atas laut biru jernih seperti kristal? Hal ini hanya bisa kamu temukan di pulau Raja Ampat.
Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sepotong surga yang jatuh ke bumi. Terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang dunia, destinasi ini menyimpan keajaiban alam liar yang menakjubkan dan jarang tersentuh dan tempat ini menawarkan pengalaman yang tak akan pernah kamu temukan di sudut bumi mana pun.
Ketika Sang Pencipta melukis lanskap bumi, tampak jelas ada kuas istimewa yang ia sisihkan khusus untuk mengukir Kepulauan Raja Ampat. Di mahkota Papua Barat Daya ini, alam tidak hanya bercerita; ia bersyair lewat hamparan kristal cair dan gugusan bukit karang yang berdiri tegak bak benteng pertahanan para dewa.
Memasuki gugusan Kepulauan Wayag, mata akan langsung disambut oleh tarian warna alami—perpaduan antara biru pirus yang menghanyutkan dan hijau emerald yang menenangkan. Gugusan pulau karang kart berselimut vegetasi tebal menyembul anggun dari kedalaman laut, bagaikan zamrud murni yang ditaburkan ke atas beludru biru. Setiap lekuk tebing batu kapur di sini seolah menyimpan rahasia ribuan tahun, terukir indah oleh belaian ombak dan buaian angin pesisir
Namun, pesona Raja Ampat bukan sekadar apa yang tampak di atas permukaan. Saat menyelam ke dalam airnya yang jernih, sejatinya Anda tengah melangkah menembus gerbang ke alam mimpi. Di dasar laut yang menjadi jantung segitiga terumbu karang dunia ini, kehidupan berdenyut begitu megah. Taman-taman karang mekar bak bunga-bunga surga, menjadi rumah bagi ribuan jenis ikan berwarna-warni yang berenang bebas bagaikan kilatan cahaya di kegelapan malam. Manta ray—para ratu laut yang anggun—menari-nari melayang di air, menyapa siapa saja yang beruntung menyaksikan pertunjukan alam tanpa panggung tersebut.
Tidak ketinggalan, hembusan angin senja di Piaynemo selalu berhasil menawan hati setiap pengembara. Ketika sang surya bersiap pamit dan melebur ke ufuk barat, langit berubah menjadi kanvas raksasa bersepuh emas dan jingga. Suasana hening seketika menggantikan keriuhan hari, menyisakan gesekan dedaunan dan bisikan ombak yang menyuarakan simfoni ketenangan abadi.
Raja Ampat bukan lagi sekadar destinasi liburan, melainkan sebuah sanctuaries jiwa—tempat di mana manusia dapat mengeja kembali arti keindahan sejati dan menyadari betapa agungnya ciptaan Semesta. Di sini, di mana air dan langit saling berpelukan, detik waktu seolah enggan berputar cepat, membiarkan siapapun yang singgah terbuai dalam lamunan indah tak bertepi.
Ayo luangkan waktumu, luapkan rasa ingin tahumu dan jejakkan kakimu di tanah Papua. Keindahan Raja Ampat menunggumu untuk disaksikan secara langsung, bukan hanya lewat layar kaca.” Jangan biarkan impian ini hanya tersimpan di daftar keinginanmu. Kemasi ranselmu, rencanakan perjalananmu, dan buat kenangan tak terlupakan di Raja Ampat!
Siapa sih yang tidak kenal dengan Bulukumba, salah satu kota yang berada di bagian selatan pulau Sulawesi. Sebuah kota yang identik dengan pantai pasir putih yang juga kerap di juluki Butta Panrita Lopi.
Kini Bulukumba kembali menghadirkan daya tarik baru di pusat kota melalui hadirnya pantai Merpati yang telah bertransformasi menjadi ruang publik modern dan waterfront city yang menjadi pusat keramaian baru bagi warga lokal maupun pelancong.
Pantai Merpati terletak di jantung kota kini menawarkan lanskap pesisir perkotaan yang bersih dan tertata dengan wajah baru yang lebih modern dan kekinian.
Area pedestrian yang luas serta fasilitas publik yang memadai menjadikannya tempat ideal untuk bersantai di sore hari sambil menikmati semilir angin laut.
Ada tiga daya tarik yang membuat kamu wajib mengunjungi pantai ini.
Spot Matahari Terbenam (Sunset): Letaknya yang menghadap langsung ke arah barat menjadikan kawasan ini sebagai salah satu titik terbaik untuk menikmati panorama senja yang sangat mempesona.
Surga Kuliner Lokal: Sepanjang area pantai, berdiri deretan sentra kuliner yang menjajakan ragam makanan khas Bugis-Makassar dan hidangan laut segar, memberikan pengalaman wisata kuliner malam yang semarak.
Ruang Interaksi Komunitas: Sebagai ruang publik terbuka, Pantai Merpati rutin menjadi lokasi berkumpulnya berbagai komunitas kreatif, keluarga, dan anak muda untuk menggelar kegiatan seni maupun olahraga ringan.
Kehadiran pantai ini membuat daya tarik Bulukumba semakin memikat dengan menawarkan perpaduan sempurna antara pesona alam bahari dan dinamika ruang publik perkotaan yang ramah pengunjung.
Itusaya.com/Jika langkah kencangmu sedang melintas di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ada satu destinasi pamungkas yang haram hukumnya kalau sampai terlewat. Namanya Tebing Apparalang. Surga tersembunyi yang sangat mempesona dan jauh dari riuk-pikuk pemukiman warga, tempat ini bagaikan perlindungan rahasia bagi siapa saja yang jiwanya sedang haus akan ketenangan.
Nama Apparalang berakar dari bahasa Konjo lokal yang memadukan dua kata: Appa yang berarti "ujung" dan Ralang yang bermakna "curam". Jadi, secara harafiah, sekaligus jujur tanpa drama! Apparalang adalah "ujung yang curam". Sebuah nama yang secara presisi menggambarkan lanskap tebing-tebing megahnya yang berdiri gagah menantang samudra.
Cantiknya Bikin Lupa Cicilan!
Pesona alam di Tebing Apparalang betul-betul luar biasa indah. Begitu memandang sekeliling, dijamin pandanganmu akan langsung 'terhipnotis'. Maka tak heran jika para pelancong yang datang ke sini tak cuma sekadar datang untuk duduk termenung, melainkan berburu mahakarya visual alias panen foto ciamik untuk memenuhi tenggat unggah media sosial!
Di sini, kamu bisa menjelajahi berbagai spot foto yang bikin geleng-geleng kepala karena indahnya:
Spot Sudut Pandang Atas: Dari atas tebing yang dipagari kayu estetis, kamu bisa memanjakan mata dengan perpaduan megahnya benteng karang alami dan rimbunnya panggung hijau hutan bakau.
Dermaga Kayu dan Tangga 'Uji Nyali': Mau turun ke bawah? Siapkan mental dan lutut yang kuat! Kamu harus menaklukkan deretan anak tangga curam setinggi kurang lebih 7-10 meter. Begitu sampai di dermaga kayu bawah, lelahmu seketika lunas dibayar tuntas dengan pemandangan indah nan mempesona.
Mangkuk Karang & Birunya Laut: Dari dermaga kayu ini, kilauan laut jernih bergradasi biru siap menyapa. Tampak pula jembatan-jembatan kayu meliuk indah yang menghubungkan tebing dengan batu karang di sekitarnya.
Atraksi Bebas Bebas-Stress: Bagi kamu yang berjiwa adrenaline junkie alias punya nyali setebal dompet di awal bulan, kamu bisa mencoba sensasi melompat langsung dari atas batu karang menuju segarnya pelukan air laut!
Bagi yang enggan basah-basahan, tenang saja! Kamu tetap bisa duduk santai di atas dermaga, menikmati tarian ombak dan usapan lembut angin laut, sembari membuka perbekalan makanan bersama keluarga tercinta. Nikmat mana lagi yang mau didustakan?
Panduan Rute & Modal Perjalanan
Untuk mencicipi potongan surga kecil ini, perjalanan dari Kota Makassar akan memakan waktu sekitar 5 hingga 6 jam, melintasi etalase keindahan Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, hingga Bantaeng.
Setibanya di pusat Kota Bulukumba, kamu masih perlu 'sedikit' bersabar dengan melanjutkan perjalanan sekitar 1-2 jam lagi hingga sampai di titik lokasi. Soal biaya, tak perlu khawatir kantong bakal menjerit!
Estimasi modal perjalanan dari Makassar relatif ramah kantong, yaitu sekitar Rp250.000 saja (tergantung tingkat kehausan dan kegemaranmu jajan di jalan, ya!).
Jadi, tunggu apa lagi? Segera kemas barangmu, ajak kerabat tercinta, dan rasakan sendiri sensasi berdiri di "ujung curam" indahnya tanah butta panrita lopi!
Itusaya.com/Suku Tobelo atau sering disebut pula suku Togutil adalah salah satu suku yang berasal dari pedalaman Maluku Utara. Suku ini hidup secara nomaden di hutan-hutan di sekitar Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.
Suku Tobelo terbagi menjadi dua yakni suku Tobelo dalam dan suku Tobelo luar. Kehidupan suku Tobelo luar sudah mulai terkontaminasi dengan kehidupan modern sehingga aturan adat dan budaya tak lagi di pakai.
Berbeda halnya dengan suku Tobelo dalam yang hidupnya masih sangat tradisional dan primitif yang tinggal di dalam hutan.
Suku Tobelo dalam mendiami 20 blok lokasi di Aketajawe dan dua blok lokasi di Lolobata. Suku ini cenderung sulit di temukan di luar dari wilayah ini. Suku ini menggunakan bahasa Tobelo.
Suku Tobelo dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu, meramu, dan berladang sederhana. Buruan utama adalah babi dan rusa juga ikan di sungai. Perkebunan terutama pisang, pepaya, ketela, ubi jalar, dan tebu.
Selain itu, mereka juga mengumpulkan telur megapoda, damar, dan tanduk rusa untuk dijual pada orang pesisir. Sehingga dapat dikatakan mereka bukan suku terasing karena masih ada interaksi dengan dunia luar.
Suku Tobelo Dalam yang hidup aman dan tenteram di desa juga ikut andil menjaga kelestarian hutan dengan pola hidup sederhana yang dilakukan. Mereka juga hidup nomaden atau berpindah-pindah.
Tempat tinggal mereka terbuat dari kayu dan bambu. Umumnya, tidak terdapat dinding pada rumah mereka. Sedangkan, lantai terbuat dari papan dengan atap dari daun palem.
Suku Tobelo dalam menitikberatkan hidupnya pada hutan dan menjadikan hutan sebagai rumah bagi mereka. Bagi mereka alam sumber kehidupan yang sangat perlu untuk di jaga.
Dalam fase kematian, juga terbilang unik serta tidak dapat lepas dari alam sekitar karena mereka menempatkan jasad di pohon yang berada di area khusus. Suku ini memiliki kepercayaan bahwa pohon seperti manusia yang memiliki jiwa dan perasaan.
Itusaya.com/Suku Korowai merupakan salah satu suku terasing yang hidup di pedalaman hutan Papua. tepatnya di wilayah Kabupaten Merauke, Asmat, Mappi, dan Boven Digoel.
Kehidupan suku ini masih sangat primitif dengan hidupnya yang nomaden dan mengikuti adat Anim-Ha yang menitikberatkan semua kebutuhan kehidupannya lewat alam.
Suku ini bertahan hidup dengan cara meramu. Kehidupan sehari-harinya dihabiskan untuk meramu di wilayah Sungai Dairom Kabur dan Sirek
Suku Korowai menggunakan bahasa jenis phylum sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa ini termasuk rumpun dari bahasa Ndumut.
Ketika hendak menikah, mereka menggunakan maskawin dari tali gigi anjing dan babi serta tali bono dengan jumlah ditentukan oleh keluarga perempuan.
Panjang tali tersebut mencapai 1-2 meter yang membutuhkan sekitar 20-30 ekor anjing untuk diambil gigi taringnya.
Selain tidak tersentuh oleh modernitas zaman, suku ini memiliki keunikan lainnya, yaitu tinggal di rumah pohon. suku Korowai membangun rumah-rumah mereka di atas ketinggian 8 hingga 15 meter. Bahkan, ada juga rumah yang dibangun hingga 45 meter di atas pohon yang tinggi.
Suku Korowai biasanya menggunakan pohon beringin sebagai tiang penyangga rumah. Sementara itu, struktur rumah dibangun dengan ranting pohon, rotan, dan kulit pohon sagu. Rumah ini dibangun tanpa paku, hanya mengikat struktur tersebut dengan tali rotan yang mereka buat sendiri.
Rumah pohon ini biasanya dapat bertahan selama tiga hingga lima tahun. Pembangunannya dilakukan oleh para pria suku Korowai dan memakan waktu sekitar tiga hari. Untuk keamanan, rumah ini dilengkapi dengan pembatas kayu. Untuk masuk ke rumah, suku Korowai menggunakan tangga gantung yang memanjang dari atas pohon.
Suku Korowai meyakini bahwa wujud iblis tersebut menyerupai mayat hidup yang berkeliaran pada malam hari untuk mencari keluarga mereka.
Namun, lebih dari itu, rumah pohon tersebut dapat melindungi suku Korowai dari serangga dan binatang buas. Selain itu, rumah pohon yang tinggi ini dapat membuat suku Korowai merasa jauh lebih aman dari serangan musuh.
Rumah pohon suku Korowai tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga simbol hubungan sosial di antara mereka. Struktur rumah ini mencerminkan hubungan antaranggota keluarga. Sebuah rumah seringkali tidak hanya ditempati oleh pasangan suami-istri dan anak-anak mereka, tetapi juga oleh saudara mereka beserta keluarga.
Dalam kehidupan sehari-hari, rumah menjadi tempat berlindung dari angin dan hujan. Namun, rumah juga menjadi tempat yang menciptakan kualitas hubungan sosial yang istimewa antara anggota komunitas Korowai.
Terdapat dua golongan masyarakat Suku Korowai, yaitu masyarakat zaman batu dan zaman besi.
Masyarakat zaman batu adalah masyarakat primitif yang masih menggunakan peralatan batu untuk bertahan hidup mulai dari mencari makanan hingga memasak makanan.
Berbeda dengan masyarakat zaman besi yang menggunakan alat-alat dari besi seperti parang, pisau besi, hingga kapak untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Suku Korowai sangat menghargai batas wilayah setiap suku. Jadi, meskipun hidupnya selalu berpindah tempat, mereka tidak akan melewati batasan wilayahnya.
Mereka adalah masyarakat yang sangat menghargai hak orang lain dan paham aturan adat.
Misalnya ketika sedang berburu dan hewan buruannya mati di tanah suku lain. Masyarakat Korowai akan mengambilnya dengan meminta izin terlebih dahulu.
Itusaya.com/Suku Kombai adalah salah satu suku asli Papua yang mendiami wilayah Citak, kabupaten Mitak Provinsi Papua Selatan yang terletak di perbatasan antara kabupaten Yohikimo, Jayawijaya dan kabupaten Boven Digoel.
Suku ini disebut sebagai suku terakhir dari zaman batu yang masih ada di dunia. Mereka merupakan salah satu suku terasing di Indonesia yang masih mempertahankan tradisi lisan dan budaya mereka yang sangat kental.
Suku kombai masih menggunakan bahasa Papua yang berasal dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan dengan dialek Tayan.
Soal keyakinan, suku ini masih menyembah ilah-ilah serta ritual-ritual Agamawi yang bersifat tradisional. Hal ini di sebut paham kargoisme yang merupakan salah satu bentuk kesepakatan.
Untuk tempat tinggal, Suku Kombai membangun rumah mereka pada pohon dengan ketinggian 10 hingga 30 meter yang terbuat dari kayu, rotan, bilah bambu, dan kulit kayu dan dibutuhkan tangga lurus yang terbuat dari sebatang kayu untuk dapat mencapai rumah.
Selain hal diatas, suku kombai juga memiliki pembagian tugas antara kaum laki-laki/pria dan wanita/perempuan. Kaum pria bertugas menebang pohon dan pergi ke hutan untuk berburu, mulai dari kus-kus, babi hutan hingga burung kasuari.
Sementara itu kaum wanita dari suku ini bertugas mengasuh anak dan mencari sagu. Ciri khas dari kaum wanita suku Kombai adalah mereka biasa memakai rok pendek yang bahannya didapatkan dari kayu dan serat sagu.
Suku ini memiliki banyak keunikan seperti halnya bentuk aksesoris yang di kenakan bagi laki-laki, dan sangat berbeda dengan dengan perempuan. Bukan hanya itu, setiap aksesoris yang menempel pada dirinya semuanya berasal dari alam.
Aksesoris laki-laki
Mahkota kepala jenis pertama (fi rafhuo), terbuat dari kulit kus-kus pohon dan kulit kerang cowries dan rakhi, serta manik-manik rambut. Hiasan tersebut diikat di atas alis atau testa.
Mahkota kepala jenis kedua (mimina), terbuat dari tali rotan, pucuk daun sagu, dan manik-manik rumput (wame) yang digunakan sebagai top.
Hiasan hidung (yani), terbuat dari batu dan kulit kerang. Batu yang diasah seukuran hidung dan kerang yang dipotong ukuran sedang, dipasang di tengah-tengah antara lubang hidung
Hiasan lengan tangan (rafe), terbuat dari kulit pohon nibung. Kulit nibung dianyam bulat seukuran tangan.
Kalung (wuhu), terbuat dari gigi babi (aimba) dan kulit pohon melinjo (li). Gigi babi diikat pada anyaman tali pintalan melinjo dan digunakan pada leher.
Hiasan badan (ranggaleho), terbuat dari gigi anjing (manggi) dan kulit pohon melinjo (li). Gigi anjing diikat pada pintalan kulit melinjo. Hiasan ini disilang pada bagian badan.
Koteka (umo), terbuat dari moncong burung taong-taong (riambo) dan kulit labu. Hiasan ini dipakai pada alat kelamin lelaki.
Gelang kaki (dofi), terbuat dari kulit pohon nibung. Kulit nibung dianyam bulat seukuran pergelangan kaki.
Aksesoris perempuan
Mahkota kepala 1 (amyamoho), terbuat dari manik-manik rumput. Hiasan ini diikat di atas alis atau testa.
Mahkota kepala jenis kedua (amyamoho), terbuat dari pucuk pohon sagu. Hiasan ini dianyam dan diikat di atas kepala.
Hiasan hidung (yani), terbuat dari batu. Batu yang diasah seukuran hidung dipasang di tengah-tengah antara lubang hidung.
Hiasan lengan tangan (rafe), terbuat dari kulit pohon nibung hutan. Kulit nibung dianyam bulat seukuran tangan.
Kalung (aerali), terbuat dari gigi babi dan kulit pohon melinjo. Gigi babi diikat pada anyaman tali pintalan melinjo dan digunakan pada bagian leher.
Hiasan badan (ranggaleho), terbuat dari gigi anjing dan kulit pohon melinjo. Gigi anjing diikat pada pintalan kulit melinjo. Hiasan ini disilang pada bagian badan.
Rumbai-rumbai atau rok (fiyo), terbuat dari pucuk daun sagu Hiasan ini dipintal dan dibuat berbentuk rok rumbai-rumbai.
Bra atau pakian dalam (ranggali), terbuat dari kulit pohon melinjo. Kulit pohon melinjo dipintal dan dianyam berbentuk pakaian dalam.
Itusaya.com/Sulawesi Barat memang tak ada duanya, berbagai hal menarik bisa ditemukan disini. Bukan hanya kaya akan keberagaman adat dan budaya yang dimiliki namun provisi yang terletak dibagian barat pulau Sulawesi ini pun menyimpan berbagai keunikan.
Pernah dengar pulau yang dihuni oleh ratusan kucing ? pulau ini ada disini loh, namanya Pulau Dea-Dea yang terletak di Polewali Mandar.
Untuk menjangkau pulau ini diperlukan waktu sekitar 15 menit dari dermaga penyeberangan Belang-belang di Desa Tonyamang dengan menggunakan perahu yang akrab disebut warga setempat dengan sebutan Taxi Air.
Pulau ini tak berpenghuni manusia seperti pulau-pulau pada umumnya. Pulau ini hanya dihuni oleh ratusan kucing berbagai jenis. Itulah sebabnya pulau ini disebut sebagai pulau kucing. Anehnya, meskipun tidak dipelihara baik oleh masyarakat ataupun pemerintah, namun kuncing-kucing ini terus bertambah dan berkembang secara alami.
Konon katanya, pulau ini semula hanya di huni oleh beberapa ekor kucing yang diasingkan oleh warga. Namun entah mengapa dalam waktu yang begitu singkat jumlah kucing di pulau ini terus bertambah hingga seakan tak terkendali.
Pulau Kucing(GoWest.id)
Meskipun Pulau ini hanya di huni oleh ratusan kucing namun jangan salah loh Pulau ini pun menyimpan banyak pesona yang akan membuat teman-teman terdecak kagum.
Suasananya nyaman, pantainya yang bersih, alamnya yang asri dan udaranya yang sejuk, akan menjadi suguhan pelengkap jika berada di pulau ini. Sekaligus mungkin hal ini pula yang menjadi penyebab sehingga kucing-kucing ini bisa bertahan dan berkembangbiak.
Pasti penasaran kan untuk berkunjung ke Pulau ini ?
Namun saya sarankan jika berkunjung ke pulau ini, ada baiknya menyediakan payung atau jas hujan agar jika cuaca tidak mendukung bisa menjadi alat berteduh karena di pulau ini masih sangat alami dan tak berpenghuni sehingga tidak tersedia fasilitas-fasilitas pendukung.
Itusaya.com/Suku Tengger adalah suku yang berasal dari penduduk asli dataran tinggi yang tinggal di sekitar pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru yang terletak di Jawa Timur. Hal inilah yang membuat suku ini sering di panggil wong Brama, orang Bromo, atau wong Tengger.
Suku ini tidak hanya tinggal di lereng pegunungan, namun banyak juga tersebar di beberapa daerah di sekitarnya seperti Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang.
Istilah Tengger berasal dari bahasa Jawa yang artinya tegak, diam tanpa bergerak yang apabila dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat, tengger juga bisa berasal dari singkatan tengering budi luhur.
Masyarakat setempat percaya jika nenek moyang Suku Tengger berasal dari Majapahit. Berkaitan dengan masa kerajaan Hindu di Pulau Jawa, di mana pegunungan Tengger diakui sebagai tempat suci yang dihuni abdi spiritual dari Sang Hyang Widi Wasa yang disebut juga sebagai hulun.
Agama dan Keyakinan Suku Tengger
Suku Tengger memeluk ajaran Hindu Dharma yang memiliki tradisi Yadnya Kasada atau upacara Kasada sebutan hari raya bagi masyarakat Tengger yang memeluk ajaran Hindu Dharma.
Yadnya Kasada dilakukan pada pada hari ke-14 bulan Kasada dengan menggelar sesembahan berupa sesaji kepada Sang Hyang Widhi, sebagai manifestasi dari Batara Brahma.
Pelaksanaan Upacara Kasada dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu puja Purkawa, Manggala upacara, Ngulat umat, Tri Sandiya, Muspa, Pembagian Bija, Diksa Widhi, dan penyerahan sesaji di kawah Bromo.
Proses upacara dimulai pada Sadya Kala Puja dan berakhir pada Surya Puja. Masyarakat Tengger beramai-ramai menuju Gunung Bromo untuk mengantarkan sesaji berupa hasil ternak dan pertanian ke Pura Luhur Poten Agung. Selama pelaksanaan, Rama Dukun Pandita akan membaca Japa Mantera, yang isinya mendoakan keselamatan seluruh alam semesta.
Selain Yadnya Kasada, masih ada lagi tradisi dari Suku Tengger. Yakni Entas-entas. Tradisi ini merupakan upacara kematian.
Entas-entas sendiri diartikan gambaran dari meluruhkan atau mengangkat derajat leluhur yang telah meninggal agar mendapatkan tempat yang lebih baik di alam arwah.
Bagi suku Tengger, pelaksanaan upacara Entas-entas secara khusus yaitu untuk menyucikan roh atau atma bagi orang yang sudah meninggal dunia. Atau sebagai upaya untuk memperingati kematian keluarga yang sudah tiada agar arwahnya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik.
Ritual adat ini, dilaksanakan pada hari yang ke-1000 atau minimal pada hari ke-44 setelah keluarga meninggal. Istilah Entas-entas berasal dari bahasa Jawa, yaitu entas yang berarti mengangkat.
Di dalam tradisi ini, terdapat beberapa rangkaian urutan di dalamnya, yakni ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan.
Untuk melakukan upacara ini, berbagai keperluan dipersiapkan, di antaranya adalah kain putih, bebek, cepel, cobek, beras, kulak (wadah bambu). Selain itu, juga menyediakan sebuah boneka yang diberi nama Petra, sebagai tempat kembalinya roh atau atma.
Adapun pembuatan boneka itu menggunakan bahan dedaunan dan bunga, kemudian nantinya akan disucikan oleh pemuka adat
Tradisi Sarung Suku Tengger
Salah satu ciri khas yang unik dari Suku Tengger adalah penggunaan sarung, baik pria maupun wanita. Namun, sarung bagi Suku Tengger bukan sekadar kain penutup tubuh dari suhu dingin tetapi memiliki makna dan simbol yang mendalam. Bahkan pemakaian sarung ini telah menjelma menjadi identitas mereka.
Penggunaan sarung ini berlaku untuk semua, baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda. Meski suhu sangat dingin yang kadang mencapai 5 derajat celsius pada malam hari, alasan penggunaan sarung ternyata tidak hanya terbatas pada cuaca dingin.
Penggunaan sarung pada suku Tengger juga memiliki nilai dan makna tersendiri tergantung pada siapa yang memakainya. Untuk laki-laki, sarung merupakan atribut formalitas sehari-hari atau sebagai perlengkapan saat bekerja.
Sementara bagi perempuan, sarung berfungsi untuk menunjukkan status sosial tertentu. Sarung yang mereka pakai mencerminkan posisi mereka dalam bermasyarakat.
Terdapat empat jenis simpul sarung bagi perempuan suku Tengger.
Perempuan Tengger mengikat sarung di pundak kanan
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kanan menunjukkan bahwa dia sudah dewasa dan siap menikah. Melalui penempatan simpul di pundak kanan ini, dipercaya perempuan tersebut akan memiliki kemampuan untuk memilih suami terbaik dengan penuh tanggung jawab.
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di dada
Simpul yang terletak di dada mengindikasikan bahwa perempuan Tengger tersebut sudah menikah.
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di leher belakang
Simpul di leher belakang menandakan bahwa perempuan tersebut sedang hamil. Ujung sarung yang menjuntai di depan ditujukan untuk melindungi kehamilannya.
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kiri
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kiri menandakan bahwa dia sudah tidak memiliki suami, yang berarti dia telah bercerai atau merupakan seorang janda.
Selain menunjukkan identitas mereka, masyarakat Tengger di Desa Ngadas juga memiliki sejumlah cara menggunakan sarung berdasarkan peruntukannya.
Kakawung
Untuk bekerja, mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Cara ini disebut kakawung, yang memungkinkan mereka bebas bergerak saat mengambil air atau pergi ke pasar. Cara bersarung ini tidak boleh digunakan saat bertamu atau melayat.
Sesembong
Untuk pekerjaan yang lebih berat, seperti bekerja di ladang atau tugas lain yang memerlukan tenaga besar, mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Sarung dililitkan di pinggang lalu diikatkan di dada seperti dodot agar tidak mudah lepas.
Sempetan
Saat bertamu, mereka mengenakan sarung sebagaimana umumnya, yaitu ujung sarung dilipat sampai ke garis pinggang. Cara ini disebut sempetan.
Kekemul
Saat santai dan berjalan-jalan, mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua tangan, kemudian digantungkan di pundak.
Agar terlihat rapi saat bepergian, mereka menggunakan cara sengkletan, yaitu kain sarung cukup disampirkan di pundak atau digantung menyilang di dada.
Kekodong
Cara lain yang khas, sering dijumpai saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat upacara atau keramaian malam hari adalah kekodong.
Dengan ikatan di bagian belakang kepala, kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh kepala, hanya menyisakan mata yang terlihat.
Sampiran
Anak-anak muda Tengger memiliki cara bersarung tersendiri yang disebut sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung, kedua lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangan.
Itusaya.com/Suku Baduy merupakan suku etnis Sunda yang bermukim di pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak provinsi Banten.
Suku Baduy percaya, mereka keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang di utus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama.
Menurut kepercayaan mereka, warga Kanekes mempunyai tugas untuk menjaga harmoni dunia. Kepercayaan ini disebut juga dengan Sunda Wiwitan. Kepercayaan yang memuja nenek moyang sebagai bentuk penghormatan.
Penamaan Suku Baduy
Sebutan Baduy awalnya adalah pemberian dari peneliti Belanda yang melihat kemiripan masyarakat di sini dengan masyarakat Badawi atau Bedoin di Arab.
Versi lain menyebutkan, jika nama dari Baduy di adopsi dari nama Sungai Cibaduy yang terletak di bagian utara Desa Kanekes.
Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam
Suku ini terbagi dalam dua golongan yaitu: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Meskipun sama tetapi keduanya dibedakan oleh aturan adat. Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan sangat baik.
Namun, Baduy Luar sudah tidak menjalankan aturan adat yang kental, suku ini sudah terkontaminasi dengan budaya luar. Seperti, di bolehkannya penggunaan barang modern diantaranya barang-barang elektronik dan sabun. Selain itu, Baduy Luar juga sudah di bolehkan menerima tamu hingga diperbolehkan mengunjungi dan menginap.
Perbedaan lainnya terlihat dari pakaian yang dikenakan. Pakaian adat atau baju dalam keseharian Baduy Dalam tersirat dalam balutan warna putih yang mendominasi, kadang hanya bagian celananya saja berwarna hitam ataupun biru tua.
Mereka sangat percaya bahwa warna putih melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Beda dengan Baduy Luar yang menggunakan baju serba hitam atau biru tua saat melakukan aktivitas.
Suku Baduy Dalam hanya tersebar di tiga kampung yakni Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan kelompok masyarakat Baduy Luar tinggal di 50 kampung lainnya yang tersebar di bukit-bukit Gunung Kendeng.
Mata Pencaharian Suku Baduy
Suku Baduy di pimpin oleh ketua adat yang disebut Pu'un dan dibantu oleh seorang wakil yang disebut Jaro, mereka bertugas mengakomodir kebutuhan dasar yang diperlukan semua masyarakat Suku Baduy.
Mata pencaharian mayarakat Suku Baduy umumnya berladang dan bertani. Alamnya yang subur dan berlimpah mempermudah suku ini dalam menghasilkan kebutuhan sehari-hari. Hasil berupa kopi, padi, dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy.
Namun dalam praktek berladang dan bertani, Suku Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi dalam mengolah lahan mereka. Hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang masuk ke Desa Kanekes demi menjaga kelestarian alam.
Rumah Suku Baduy
Proses pelestarian alam juga berlaku saat membangun rumah mereka yang terbuat dari kayu dan bambu. Hal ini juga terlihat dari kontur tanah yang masih miring dan tidak digali demi menjaga alam yang sudah memberi mereka kehidupan.
Rumah-rumah di sini dibangun dengan batu kali sebagai dasar fondasi, karena itulah tiang-tiang penyangga rumah terlihat tidak sama tinggi dengan tiang lainnya.
Rumah adat Baduy terbagi dalam 3 ruangan dengan fungsi masing-masing berbeda. Bagian depan difungsikan sebagai tempat menerima tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan.
Bagian tengah berfungsi untuk ruang keluarga dan ruang tidur, serta ruangan ketiga yang terletak di bagian belakang digunakan untuk memasak dan tempat untuk menyimpan hasil ladang.
Semua ruangan dilapisi dengan lantai yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pada bagian atap rumah terbuat dari serat ijuk atau daun pohon kelapa.
Rumah suku Baduy dibangun saling berhadap-hadapan dan selalu menghadap utara atau selatan. Faktor sinar matahari yang menyinari dan masuk ke dalam ruangan menjadi alasan mengapa rumah di sini dibangun hanya menghadap dua arah itu saja.
Aktifitas Menenun
Layaknya kebanyakan suku di nusantara, Suku Baduy juga mengenal budaya menenun yang telah diturunkan nenek moyang mereka. Menenun hanya dilakukan oleh kaum perempuan yang sudah diajarkan sejak usia dini.
Ada mitos yang berlaku bila pihak laki-laki tersentuh alat menenun yang terbuat dari kayu ini maka laki-laki tersebut akan berubah perilakunya menyerupai tingkah laku perempuan.
Tradisi menenun ini menghasilkan kain tenun yang digunakan dalam pakaian adat Suku Baduy. Kain ini bertekstur lembut untuk pakaian namun ada juga yang bertekstur kasar. Kain yang agak kasar biasanya digunakan masyarakat Baduy untuk ikat kepala dan ikat pinggang.
Selain digunakan dalam keseharian, kain ini juga diperjualbelikan untuk wisatawan yang datang berkunjung. Tidak hanya kain, ada juga kain dari kulit kayu pohon terep yang menjadi ciri khas dari Suku Baduy dalam urusan benda seni.
Tas yang bernama koja atau jarog ini digunakan Suku Baduy untuk menyimpan segala macam kebutuhan yang diperlukan pada saat beraktivitas atau perjalanan.
Prosesi Pemakaman Suku Baduy
Masyarakat Suku Baduy menyebut peristiwa kematian sebagai Kaparupuhan yang memiliki arti kehilangan.
Masyarakat Baduy dalam dan luar memiliki perbedaan dalam melaksanakan upacara kematian. Masyarakat Baduy dalam akan melaksanakan ritual kematian selama 40 hari, sedangkan Baduy luar selama 7 hari.
Ketika mendengar kabar duka dari kerabat maupun warga terdekat, masyarakat Baduy akan berdatangan menuju rumah duka dengan membawa sembako atau makanan.
Mereka juga akan membantu proses pemakaman di rumah duka, mulai dari mengurus jenazah hingga proses penguburan.
Proses mengurus jenazah dilakukan oleh masyarakat sekitar di dalam rumah duka. Dimana pihak laki-laki akan berperan dalam proses penggalian kubur serta membuat keranda dengan menggunakan bambu.
Sementara itu, pihak perempuan akan bertugas memasak hidangan serta menyiapkan keperluan lain untuk penguburan.
Pengurus jenazah juga akan dibedakan tergantung dengan jenis kelamin jenazah, jika jenazah tersebut wanita maka ia akan diurus oleh penghulu bikang. Sedangkan, jika jenazahnya laki-laki akan diurus oleh penghulu jalu.
Pada hari pertama, masyarakat Suku Baduy akan menyiapkan perlengkapan prosesi penguburan, seperti dua buah pasarad (keranda), tempat dan peralatan mandi, boeh (kain kafan) atau tenun serta sesaji berisi menyan dan makanan.
Orang yang sudah meninggal akan dibawa dengan keranda yang sudah dibuat dan dimandikan oleh ketua adat (penghulu).
Dalam memandikan jenazah, masyarakat Suku Baduy memanfaatkan daun sebagai pengganti sabun dan ditempatkan di atas pelepah pisang atau bambu.
Jenazah yang sudah dimandikan juga akan dibungkus dengan selambar boeh (kain kafan) atau kain tenun yang sudah disiapkan, lalu dipindahkan ke sebuah peti baru dengan kain tenun yang dilapisi oleh kain berwarna merah atau biru.
Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka menggunakan pasarad menuju pemakaman yang ada di masing-masing kampung.
Semua proses pemakaman akan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dilarang ikut meskipun orang meninggal tersebut adalah keluarganya.
Makam Suku Baduy terpisah dari pemukiman yang terletak di sebelah barat laut dan dipisahkan oleh aliran sungai sebagai simbol pemisah dunia yang berbeda.
Proses pemakaman akan dipimpin oleh Jaro Tangtu dan salah satu perwakilan keluarga sebagai Ceurik Panglayuan.
Jenazah kemudian akan diletakkan di liang lahat dengan menghadap ke selatan yang merupakan arah Sasaka Domas dan kepala menghadap barat yang merupakan arah Sasaka Pada Agung atau tempat suci masyarakat Baduy.
Setelah dimakamkan, akan dilanjutkan dengan berdoa agar jiwa dari orang yang sudah meninggal cepat sampai di Mandala Hiyang atau tempat suci.
Keranda atau pasarad yang digunakan untuk membawa jenazah juga akan dipotong dan makam juga akan ditanam pohon Hanjuang.
Setelah upacara pemakaman selesai, masyarakat Suku Baduy akan melanjutkan rangkaian acara ritual upacara kematian ini hingga 7 hari bagi Baduy luar dan 40 hari untuk Baduy dalam.
Warga sekitar akan berkumpul selama tiga malam di rumah duka, keluarga duka juga dilarang untuk bepergian ke luar rumah selama tujuh hari.
Pada hari ketiga, keluarga yang ditinggal akan menumbuk padi untuk digunakan sebagai jamuan dalam rangkaian upacara kematian.
Mereka juga memberikan sesaji berisi makanan-makanan khas Suku Baduy, sedangkan pada hari ketujuh masyarakat Suku Baduy membuat tumpeng sebagai tanda berakhirnya kehidupan orang yang meninggal dunia.
Masyarakat Baduy tidak memiliki kebiasaan untuk menjaga makam, mereka juga memiliki keyakinan bahwa pada hari ketujuh makam orang yang meninggal dapat digunakan sebagai ladang atau kebun.
itusaya.com/Jika di Bulukumba kamu sempat terpesona oleh birunya laut, tunggu sampai kamu melangkahkan kaki ke wilayah Suku Kajang (Ammatoa). Di tengah kepungan era serba digital dan serbuan gaya hidup aesthetic, masyarakat Suku Kajang justru konsisten tampil classic dan bersahaja dengan balutan busana serba hitam. Bukan sekadar urusan fesyen, warna hitam bagi mereka adalah simbol kesederhanaan, kesetaraan, dan pengingat akan asal-usul manusia yang berasal dari tanah dan kegelapan rahim.
Suku Kajang adalah benteng terakhir pelestari alam yang sangat teguh memegang tradisi. Di saat dunia luar sibuk memikirkan cara menguras bumi, masyarakat Kajang justru punya komitmen kuat untuk merawatnya. Hasilnya? Hutan mereka tetap lestari, asri, dan hijau hingga hari ini.
Rahasia utama kelestarian alam mereka terletak pada sebuah pranata budaya bernama Pasang Ri Kajang. Secara harfiah, Pasang bisa diartikan sebagai pesan leluhur, hukum adat, sekaligus kitab pengetahuan lisan yang diwariskan turun-temurun. Ini bukan sekadar wejangan penutup tidur, melainkan "SOP" tertinggi dalam kehidupan masyarakat Kajang yang haram hukumnya untuk dilanggar oleh siapa pun, mau warga biasa sampai pejabat yang hanya sekadar lewat!
Bagi Suku Kajang, alam bukan sekadar objek yang bisa diolah seenak jidat, melainkan bagian dari belahan jiwa. Salah satu petuah "pasang" yang paling tersohor berbunyi: “Anjo boronga anre nakulle nipanraki. Punna nipanraki boronga, nupanrakki kalennu.” yang berarti (Hutan tidak boleh dirusak. Jika engkau merusaknya, itu sama saja engkau merusak dirimu sendiri.)
Prinsip ini membuktikan bahwa jauh sebelum isu climate change dan go green mendunia, Suku Kajang sudah lebih dulu menjadi 'pahlawan lingkungan' sejati. Mengapa Hutan Sangat Diagungkan? Menurut kepercayaan Suku Kajang, hutan memiliki dua fungsi vital yang tak terpisahkan:
Fungsi Ritual (Sakral): Mereka meyakini bahwa titik awal bumi pertama kali diciptakan berada di dalam hutan mereka. Maka tak heran jika hutan menjadi tempat paling suci untuk menggelar berbagai upacara adat.
Fungsi Ekologis: Hutan diibaratkan sebagai 'jantung' pembuat hujan sekaligus sang penjaga mata air—yang dalam bahasa lokal dinamakan Tumbusu’.
Saking cintanya pada hutan, aturan adat di sini terbilang extra strict. Jangankan menebang pohon atau berburu satwa, merusak rumah lebah bahkan mencabut rumput pun ada hukumannya! Jadi kalau berkunjung ke sini, pastikan jemari dan langkah kakimu tetap sopan, ya. Gaya hidup Suku Kajang dipandu oleh filosofi Kamase-masea, yaitu prinsip hidup bersahaja dan cukup.
Di era di mana orang-orang berlomba menumpuk harta, warga Kajang justru memilih untuk hidup pas-pasan dan tidak berlebihan. Bagi mereka, mengambil dari alam secukupnya adalah kunci menjaga keseimbangan ekosistem. Atas dasar filosofi inilah, kawasan hutan di wilayah Ammatoa dibagi secara bijaksana menjadi tiga zonasi:
Hutan Keramat (Borong Karamaka)
Ini adalah zone zero alias kawasan ultra-steril. Tidak boleh ada kegiatan apa pun di sini kecuali ritual adat! Jangankan menebang pohon atau mengukur luas tanah, mengusik flora dan fauna di dalamnya saja diharamkan. Siapa pun yang berani nekat melanggar siap-siap kena denda adat yang berat, plus wajib mengembalikan kayu yang diambil ke tempat semula!
Hutan Perbatasan (Borong Batasayya)
Kawasan ini berfungsi sebagai 'zona penyangga'. Kayu di hutan ini boleh diambil, tapi wajib mengantongi izin dari Ammatoa dan syaratnya super ketat: hanya untuk kepentingan umum atau membantu warga yang kurang mampu membangun rumah. Uniknya lagi, setiap kali menebang satu pohon, kamu punya utang kewajiban untuk menanam pohon pengganti!
Hutan Rakyat (Borong Luara’)
Hutan ini merupakan zona ekonomi yang bisa dikelola oleh masyarakat umum untuk kebutuhan sehari-hari. Meski terbilang lebih fleksibel, pengelolaannya tetap tidak boleh keluar dari koridor dan norma-norma adat yang berlaku.
Dari Suku Kajang kita belajar bahwa kemajuan zaman tidak selalu diukur dari megahnya gedung pencakar langit atau canggihnya teknologi, melainkan dari sejauh mana manusia mampu menghormati dan menjaga rumah tempat tinggalnya.
Jadi, jika suatu saat kamu berkesempatan melangkah ke tanah Ammatoa, bersiaplah untuk melepas sejenak riuk pikuk modernitas, meresapi kearifan lokal yang menyejukkan jiwa, dan belajar arti kesederhanaan yang sejati!
Itusaya.com/Ada lagi nih pulau yang sangat keren di Pangkep namanya Pulau Samatellu. Pulai ini terletak Desa Mattiro Walie, Kec. Liukang Tupabbiring, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pulau ini masuk dalam kawasan spermonde yang tersusun oleh material sedimen karbonat yang sudah berumur.
Jika diperhatiakan pulau ini berbentuk lingkaran yang di sekelilingnya di hiasi dengan pemandangan laut lepas.
Untuk bisa sampai ke pulau ini dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju dermaga Maccini Bajik di Kec. Labakkang. Kemudian melanjutkan 1 jam perjalanan menggunakan perahu nelayan sewa menuju pulau. Uniknya, jalur yang di lalui pun tidak dari bibir pantai namun melalui bentangan sungai Pangkajene dengan menumpangi kapal nelayan atau yang sering pula disebut sebagai taksi laut.
Tapi ingat, biasanya taksi laut berangkat menuju pulau ini sekitar pukul 10.00 - jam 12.00 siang, diluar dari jam ini kadang sulit untuk menemukan perahu karena pada jam-jam tertentu air laut akan pasang disertai dengan ombak yang semakin besar.
Namun, jangan khawatir meskipun menuju ke pulau ini cukup membutuhkan waktu, tenaga, dan perjalanan yang cukup rumit namun setelah sampai kalian akan di suguhkan keindahan laut yang sangat menawan dan tidak mungkin bisa di temukan di tempat yang lain. ekosistem laut seperti ikan dan terumbu karang menjadi daya tarik utama di pulau ini. Makanya, jangan lupa membawa alat snorklin ataupun alat selam jika berkunjung kesini.
Pulau ini pun bukanlah pulau yang tak berpenghuni sehingga teman-teman jangan takut berada di pulau ini. Menurut beberapa sumber, pulau ini dihuni oleh 22 kepala keluarga yang berasal dari Suku Bugis Makassar. Makanya jumlah rumah yang bermukim di pulau ini pun berkisar 22 rumah. Namun entah sekarang apakah sudah bertambah atau malah berkurang. Makanya jika penasaran, buruan berkunjung ke pulau ini.
Sebelum masuk ke pulau ini, teman-teman akan disuguhkan sebuah pohon besar yang berumur tua, bagian bawah pohon ini dilingkari pagar yang tak jarang dibawah pohon ini ditemukan berbagai sisa-sisa sesajen. Menurut warga sekitar area sekitar pohon ini merupakan jantung dari pulau Samatellu yang diyakini memiliki energi lelulur yang perlu untuk di hormati.
Yah, boleh disebut bahwa pohon ini dikeramatkan tidak hanya oleh warga sekitar namun terkadang pun ditemukan warga dari luar datang bersiarah ke sekitar pohon ini.
Pemandangan alam yang indah berupa pasir putih yang lembut dan menawan menjadi ciri khas dari pulau ini, udara yang sejuk serta lingkungan pantai yang bersih akan menjadi pemikat bagi siapapun yang datang.
Pulau Samatellu Pedda (Geo Park Maros)
Belum lagi ekosistem lautnya yang beragam dan alami menjadikan para wisatawan kerap melakukan aktifitas pantai berupa snorkling dan diving, untuk menyaksikan secara langsung keindahan ekosisitem bawah laut disekitar pulau ini.
Tak hanya itu, salah satu kebiasan unik dari masyarakat sekitar yang sudah menjadi tradisi secara turun temurung yang kerap ditemui di pulau ini yakni dengan melakukan Mandi Safar.Tradisi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menolak bala sekaligus untuk meningkatkan silaturahmi baik sesama tetangga maupun dengan keluarga lainnya.
Itusaya.com/Ada lagi nih pulau yang sangat keren di Pangkep, Sulawesi Selatan. Namanya, Pulau Langkadea yang seringkali diistilahkan sebagai pulau yang menyimpan pesona surga terletak di desa Mattiro Sompe, Kec. Liukang Tupabbiring,Pangkep.
pulau ini tak berpenghuni yang berada dalam jajaran Spermonde. Bentuk dari pulau ini terbilang sangat unik dengan bentangan yang memanjang dan mengerucut dibagian ujung dengan luas kira-kira 3-4 kali lebih luas dari lapangan sepakbola.
Untuk sampai ke pulau ini, hanya bisa diakses melalui jalur laut dengan menyewa perahu dari pelabuhan Paotere Makassar yang dapat ditempuh berkisar 1 sampai 2 jam. Ada banyak jenis perahu yang tersedia di bibir pelabuhan dan bisa ditemukan di pagi hari namun untuk jam keberangkatan biasanya akan di mulai dari pukul 11.30 siang. Perahu ini milik warga yang memang hanya di peruntukkan sebagai alat transportasi tradisional yang disiapkan untuk menjangkau pulau ini.
Namun mimin sarankan jika ingin berkunjung ke pulau ini, baiknya barengan bersama kawan, sahabat, atau keluarga. Tapi ingat jangan hanya berdua dengan pacar atau pasangan yah, soalnya takut jangan sampai ada yang salah paham atau salah pecah. Hehehe. bercanda...
Selain karena pesona alamnya yang menarik, salah satu yang menjadi daya tarik unggul di pulau ini yakni dengan adanya hamparan pasir putih yang lembut, lengkap dengan air lautnya yang biru dan sangat jernih. Perpaduan kedua ini menjadikan pulau ini masuk sebagai kunjungan destinasi terfavorit dan populer di Kab. Pangkep.
Laut dengan air yang jernih ini memiliki kedalaman sekitar 35 meter. Hal ini menjadikan perairan laut yang terdapat di pulau ini termasuk ke dalam perairan laut dangkal. Suhu di pulau ini juga masih termasuk ke dalam suhu normal bagi daerah tropis. Hal ini dikarenakan area perairan di pulau ini dipengaruhi oleh arus lintas perairan Indonesia. Keadaan bawah laut di pulau ini juga menyuguhkan pemandangan yang indah.
https://www.itusaya.com
Pulau Langkadea Pangkep(Menatap Negeri)
Bawah laut dari Pulau ini didominasi oleh terumbu karang. Bahkan di laut ini juga ditemukan 176 jenis hewan yang sangat mempengaruhi proses pembentukan karang. teman-teman juga dapat menemukan keindahan ini di kedalaman sekitar 10 hingga 25 meter.
Namun uniknya, laut yang terdapat pada pulau ini memiliki luas terumbu karang yang mencapai hingga 27.000 Ha. Coba bayangkan begitu luasnya hamparan terumbu karang yang ada disekitar pulau ini.
Tak hanya bisa menikmati indahnya pemandangan alam bawah laut, teman-teman juga dapat menikmati keindahan pulau tersebut dengan mendirikan tenda ataupun memasang sebuah hammock untuk bersantai sambil menikmati angin sejuk yang terbawa oleh ranting pohon.
Saking indah dan menawannya sehingga Pulau ini dijuluki dengan nama “mustika citra langkah island” sebagai sebuah penghormatan karena keindahan alamnya yang tak tertandingi.
Inilah yang tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk segera melakukan snorkeling ke bawah laut atau mungkin ingin menyelam untuk melihat keindahan dari dasar di sekitar pulau ini. Soal fasilitas jangan khawatir karena pulau ini sudah dilengkapi dengan fasilitas mulai dari yang cukup sederhana hingga penginapan yang mewah. Semua sudah tersedia disini.
Konon katanya, pulau ini pernah berpenghuni, dihuni oleh sebuah keluarga yang kemudian berpisah dan ditinggal oleh ana-anaknya karena adanya sengketa setelah ayahnya meninggal. Sedangkan menurut cerita yang lain, pulau ini dahulu adalah milik warga yang kemudian pergi setelah terjadi sengketa politik saat pemilihan bupati.
Namun masalah diatas tidak mengurangi keindahan yang dimiliki pulau ini. Makanya, jika penasaran, buruan kesini biar bisa merasakan indahnya pulau Langkadea.